Rabu, 26 September 2007

Sehidup Semati



Dinda...

Duduklah Sejenak Dalam Heningnya Duniaku, Mari Kita Berbincang Tentang Indahnya Bunga Yang Telah Aku Rangkai Untukmu. Dimana Aku Telah Merajut Setiap Asa Dan Secercah Senyum Di Setiap Kelopaknya.

Dinda...

Duduklah Sejenak Dalam Kesederhanaan Istanaku, Mari Kuperlihatkan Setiap Sudut Pintu Hatiku, Dimana Para Prajurit Cinta Telah Mulai Menenun Lembaran-Lembaran Sutra Untuk Namamu

Dinda...

Duduklah Dalam Pelaminan Jamuanku, Akan Aku Suguhkan Sebuah Pualam Sebagai Maharmu, Dimana Pilar-Pilar Tetesan Cahaya Rembulan Telah Menghias Setiap Butiran-Butiran Tahtanya.

Dinda...

Genggam Tanganku Dan Berjalanlah Dalam Langkah Hidupku, Ikuti Setiap Jejak-Jejak Harapan Dan Doaku Bagimu, Tatkala Kau Merasa Resah, Maka Rangkullah Beberapa Bintang Untuk Menuntun Sinar Mu

Dinda...

Pandanglah Terus Pada Mentari Dalam Setiap Keluh Kesahmu, Tatkala Ego Mulai Meresap Dalam Batinmu, Hatimu Tak Akan Tertutup Olehnya.

Dinda.....

Tatkala Senja Mulai Turun Menutup Peraduannya Pada Hari Tua Raga Ini, Maka Teruslah Duduk Dalam Biduk Ini Sebagai Permaisuriku, Ceritakan Tentang Semua Lembaran Silam Yang Telah Kita Anyam Dalam Helai Nafas-Nafas Cinta.

Dinda...

Hapuslah Butiran Kesedihan Yang Mengalir Pada Redup Ranumnya Kasihmu, Bacakan Tentang Suka Dalam Lampau Kita, Dan Simpulkan Senyum Dalam Wajah Penuh Makna Itu, Tetapkan Ia Disitu, Walau Kelak Kalimat Duka Kembali Harus Diucap

Dinda...

Kala Jasad Ini Telah Roboh Oleh Masa, Maka Yakinlah Bahwa Jiwa Akan Terus Menjadi Kawan Dalam Hidupmu, Nyanyikan Ayat-Ayat Doa Dalam Sepimu, Dan Tetaplah Tersenyum Pada Tegarmu.

Dibalik Hujan

Aku Redup Dibalik Derasnya Tangis Sang Pertiwi, Yang Menyiram Setiap Lelah Pada Beban Yang Sudah Terlalu Berat Untuk Ditopang Oleh Sang Adil

Tawa Dan Ceria Wahana-Wahana Kecil Itu Bermain Dibawah Guyuran, Menyambut Rahmad Dari Duka Sang Ibu, Sementara Para Kuli Zaman Sedang Menggerutu Pada Kesedihan Ini, Seolah Mereka Enggan Untuk Paham Pada Penderitaannya.

Aku Masih Redup Dalam Teduhku, Tak Ada Tanda-Tanda Cerah Mengintip Dibalik Kelamnya Gumpalan-Gumpalan Pekat, Yang Ada Hanyalah Butiran-Butiran Sendu Yang Jatuh Massal Menghantam Tubuh Tempat Berpijak, Alirnya Seolah Ingin Menghapus Debu Dan Dosa Dari Jalan-Jalannya.

Beberapa Insan Mulai Mengeluh, Desahan Ego Mereka Seolah Mengumpat Pada Sang Khalik Yang Menghalangi Mereka Untuk Meraup Ambisi Dan Keserakahan Hakiki. Namun Beberapa Insan Lainnya Terlihat Tenang Dalam Meditasi Penantian Ini, Seolah Sadar Bahwa Sabar Dan Syukur Adalah Kunci Utama Dari Rumitnya Kehidupan.

Aku Menghamparkan Tanganku, Keluar Dari Persembunyianku, Sejenak Meyakinkan Ketakutanku, Lalu Ikut Menangis Bersama Sedih Itu, Dimana Sendu Dan Dinginnya Bulir-Bulir Itu Seolah Memberikan Alur Dari Setiap Amarah Dalam Darahku.

Beberapa Insan Kembali Menghujat Sinis, Seolah Tiada Lagi Ada Waras Yang Berpikir Dalam Akal Ini, Namun Beberapa Lainnya Terlihat Merangkai Simpul-Simpul Senyum, Namun Penuh Tanda Tanya Akan Maknanya.

Kuhampiri Wahana-Wahana Kecil Itu, Yang Tampak Tegar Dalam Setiap Kerikil-Kerikil Zaman, Lalu Kutanyakan Pada Mereka Tentang Perasaaan Dari Bulir-Bulir Yang Jatuh Membasahinya, Yang Tampak Hanya Senyum dan Tawa, Seolah Mereka Ingin Bersabda Bahwa Ini Bukanlah Tangis Yang Harus Disesali, Namun Untuk Disyukuri

Akupun Tak Lagi Redup, Tangis Ada Kala Suka Terlalu Lama Berdiri Kokoh Dalam Sisi-Sisi Hidup, Seolah Ingin Mengatakan Bahwa Semua Pasti Berakhir, Duka Lalu Datang Dengan Rakhmad-Nya.

Jangan Menangis Dalam Duka Wahai Hatiku, Bantulah Raga Untuk Bangun Dan Menatap Makna Dari Semua Yang Tersirat, Agar Kelak Tak Ada Lagi Kata Dalam Penyesalan, Dan Maki Dalam Kebodohan

Asa

Jika Saja Mimpi Itu Datang Lebih Awal, Tentu Sadar Takkan Berani Mengusik Jiwa Yang Sedang Terlelap Dalam Dekapan Malam

Jika Saja Cahaya Itu Datang Sebelum Pagi Membangunkan Raga Yang Sedang Beradu Argumen Dengan Kata Hati Yang Terusik, Tentu Mentari Akan Bersua Pada Secercah Pilunya Harapan

Namun Tidak Ada Satupun Embun Yang Menetes Sesudah Tangis Alam Yang Membasuh Perih Sang Ibunda, Yang Ada Adalah Air Mata Duka Yang Tertahan Oleh Puing-Puing Amarah

Kanda Masih Terduduk Dalam Khusu’ Nya Ayat Sabda, Sementara Dinda Menatapnya Nanar, Sambil Sesekali Merajut Sayap-Sayap Harapan Pada Tangis Sang Ananda.

Jika Saja Ia Bisa Berujar, Maka Perdalamlah Kata Dari Jasad Nurani, “Inilah Budi Yang Paling Utama, Yang Tidak Akan Bisa Terbayar Dengan Sempurnanya Nilai Ikhlas”.

Hati Berdesah.......

Jika Saja Harapan Itu Datang Sebelum Dosa Porak Porandakan Jejak Jerih Dan Keluh Kesah Lelah Sang Raga, Maka Urat-Urat Nadi Akan Terus Menopang Langkah Asa Membenahi Sirrat Yang Terurai

Jika Saja Perih Itu Tidak Datang Saat Luka Menebar Sakit Di Sekujur Diam, Maka Bara Dendam Akan Padam Oleh Argumen Sabar Dalam Memperjuangkan Ayat-Ayat Surga

Hati Masih Berdesah....

Dimana Jiwa Harus Bersujud Sementara Raga Masih Terus Mengukir Enggan Dalam Diam? Apakah Ukiran Itu Begitu Indah Sehingga Membutakan Nur Taqwa Yang Hakiki.

Dimana Hati Harus Mengadu Sementara Ego Masih Sibuk Melukis Rona-Rona Dendam Dalam Riuh Rendahnya Bisik-Bisik Dengki? Apakah Bisikan Itu Begitu Merdunya? Sampai Membuat Akal Berpaling Dari Indahnya Realita Janji Sang Maha Agung.

Hati Kini Memohon...

Andaikan Mampu Terkabul, Kami Lelah Mencari Kebenaran Itu Sendiri.

Andaikan Mampu Terkabul Izinkan Kami Menatap Secercah Sinar Pada Wajah Sang Teladan, Walau Sesaat, Ia Adalah Air Yang Membasahi Setiap Kering Kerontangnya Langkah-Langkah Ego Dalam Membangun Mimpi

Andaikan Terkabul, Izinkan Kami Mati Dalam Balutan Syafaat Syuhada Sang Pemimpin Mulia Itu, Sehingga Terlupa Oleh Kami Semua Keindahan Dan Janji-Janji Dunia

Hati Kini Memohon...

Dan Terus Akan Memohon...

Terus Memohon...

Sampai Raga Tak Mampu Lagi Memohon...

Pendosa Dalam Taubat

Jangan Wahai Engkau Batin Yang Tersakiti Hatinya Olehku............

Jangan Rajam Setiap Jejak Langkah Dan Nurani Fitrahku...

Dengan Tatap Sinis Dan Permainan Kata-Kata Fitnahmu,

Aku Hanyalah Insan Yang Berlindung Dalam Balutan Kain Kerudung Jilbab,

Hendak Mencari Ridha Illahi Yang Hakiki........

Jangan Wahai Engkau Raga Yang Terdzholimi Olehku.........

Jangan Sudutkan Setiap Kata Dan Ucap Bait-Bait Amalanku,

Dengan Argumen Globalisasi Yang Dibalut Tangan-Tangan Diskriminasi Dan Tipu Daya,

Aku Hanyalah Insan Pendosa Yang Meniti Setiap Rangkai Kalam Kitab Suciku

Mencari Dan Mencoba Mengupas Makna Ayat-Ayat Firman Dan Sabda...

Ya Allah.......

Inikah Hukuman Bagi Pendosa Yang Tlah Lama Lupa Akan Hadir-Mu, Dan Sekarang Mencari Jalan Dalam Ridha-Mu...?

Atau Hanya Ombak Yang Menerpa Karang Istiqomah Yang Sedang Kutata Dalam Nurani Kecilku.....?

Ya Allah.......

Jika Ini Adalah Salah Satu Goresan Dalam Pena Takdir-Mu Bagiku....

Segenap Ikhlas Akan Kujalani Liku-Liku Gersang Dalam Alur Karmaku,

Walau Bagi Mereka Pendosa Tetaplah Pendosa...

Asal Setitik Ampunan-Mu, Cairkan Dahaga Dalam Sesat Mata Batinku..

Jangan Wahai Engkau Pendendam Yang Terhina Olehku...........

Jangan Kotori Jilbabku Dengan Bait Caci Maki Dan Rangkaian Sumpah Serapahmu..

Rajam Saja Utuh Jasad Pasrah Yang Hanya Mencari Perlindungan Akan Khaliknya Ini..

Bila Kau Puas Melihat Pendosa Ini Gugur Dalam Perjuangan Mencari Makna Yang Hakiki...

Insya Allah...

Moga-Moga Allah Merangkulmu Dengan Segala Kemurahan Dan Berjuta Ampunan-Nya

Amien..............

Rabu, 19 September 2007

Mencari Makna Tuhanku


Wahai Mulia yang tersebut dalam setiap permohonan dan serak napas doaku...

Apakah detak hawa nafsu dan syahwat dalam alir denyut nadiku adalah uji-Mu bagiku..?

Apakah tangan tangan halus yang membelai seluruh urat-urat imanku adalah hasut musuh-musuh-Mu...?

Dan apakah teriakan pilu para budak birahi adalah contoh atas ketamakanku......?

Wahai Mulia pemilik kalam atas takdir yang tercipta....

Apakah murka riak-riak ombak yang menggulung insan lupa diri adalah amarah-Mu..?

Lalu bagaimana dengan para insan pendzikir pengagung akan kebesaran-Mu..?

Dan para syuhada yang berjuang demi kokoh firman-Mu wahai sang Illah...?

Wahai Mulia pemilik petunjuk pada ayat-ayat dan sabda....

Apakah kelam atas kabut hati para pendosa adalah sebab bagi sirrat yang hakiki...?

Dan mengapa cahaya enggan menyapa si angkuh pada sang hidayah...?

Apakah ratap lembut dunia telah berhasil membuai mereka pada lembayung peraduan yang semu...?

Wallahualam.......

Wahai Mulia pemilik seluruh kasih sayang dan ampunan...

Bila waktu mulai enggan tuk meneruskan detak-detaknya langkah lelahnya...

Izinkan hamba mencari tauhid dan fitrah islami pada kenistaan diri..

Bila makna enggan tuk bersabda pada sang hina...

Maka izinkan pendosa ini hanya mendengar lirih-lirih merdunya...

Wahai Mulia yang pengasih dan penyayang...

Dan hamba yang masih mempertanyakan akan kebesaran-Mu

Ampunilah semua ingkar dan kesombongan ini..

Sesungguhnya hanya diri-Mu pemberi petunjuk akan kesesatan hati ini

Makna

PANTASKAH MASIH MAKNA DIPERTANYAKAN?

Makna……?

Jatuhan tetes-tetes pilar kilau yang titik-titiknya menyapa urat-urat ibu dalam napas-napas lelah berkabung dalam mendung….

Makna…… ?

Lukisan pada garis-garis surya pijar yang cairkan luka di titian serpih-serpih lara..

Rajutan pada tapak langkah-langkah koyak lembaran pijak….

Langkah galau pada detak-detak sang asa yang meregang nyawa…..

Makna……. ?

Goresan-goresan tua sang cinta bias yang meniti ukiran-ukiran kata satu raga…

Kata pada Jasad-jasad renta yang memandang hampa ayat-ayat sabda…

Adakah arti dari apa yang diraba..? atau hanya rasa pada sang puja..?

Jeritku…oh..

Pada lembar-lembar helai sang tegar yang bilahnya masih tenang terbentang…

Walau kepakan-kepakan kecil sudah tak mampu bawa terbang…

Jeritku…oh..

Pada para mulia yang berkenan tuk patahkan satu helai kepak sayap-sayapnya….

Dan memapahnya pada tepi-tepi sisi mimpi sang asa….

Dan Jeritku…oh…

Pada Mekarnya lembayung yang benamkan rusuk-rusuk tatap temaram sang rembulan…

Membuai dirga dalam peraduan peluk mata-mata senja yang semakin kelam…

Pantaskah masih, makna-makna itu dipertanyakan…?

Kala petik alunan senandung ego bangkitkan amarah riak-riak jemari sang ombak….

Mengharu pilu, para insan yang berlindung dalam kebutaan mata batin….

Katakan pada hamba-Mu yang hina ini…

Apakah masih pantas makna akan kebesaran-Mu dipertanyakan..?

Kala hembusan denyut jantung sang bumi runtuh benamkan umat dalam dekapan kerudung kematian….

Dan dalam gubahan bencana yang hadirkan nada-nada tangis haru pilu menyayat…..

Bencana..........

Adalah Sapa-Mu pada insan yang inkar akan nikmat-Mu

Dan belai kasih cobaan pada ummat yang selalu menyebut nama-Mu

Ya Allah….

Pantaskah masih hamba yang hina ini pertanyakan makna kasih sayang-Mu…

Hamba hanya dapat meminta dan memohon ampunan-Mu…………...

Memohon Hadir belai-Mu dalam Taubat………….

TanpaJudul

Mengapa harus ada tangis saat tersakiti oleh cinta? Mengapa harus ada sakit yang menyiksa saat cinta mulai pergi? Dan mengapa takluk selalu saja bersama orang-orang yang lemah akan cinta..?

Lalu mengapa ada saja yang masih menyanjung cinta itu bagai sebuah keagungan yang maha dahsyat mengalahkan segalanya? Mengapa masih ada yang mengatakan bahwa ada keindahan yang terlukis dibaliknya? Sadarkah mereka pada apa yang terlihat oleh kasat mata tak lebih dari sebuah fatamorgana oase ditengah teriknya panas gurun.

Aku ibarat sebuah kebodohan saat mengenal apa itu cinta, seperti seorang musafir yang tersesat di hamparan padang pasir, bingung kemana arah akan melangkah, saat tersadar aku sudah kehilangan segalanya, ambisi dan tujuan hidup.

Saat aku mulai kehilangan kemana aku harus berpijak? Aku masih punya Allah yang maha tahu apa yang dibutuhkan hambanya, tapi pundak siapa yang bisa kujadikan tempat untuk bersandar? Lalu apa yang bisa kulakukan untuk meyakinkan dirinya yang telah pergi..? aku tidak punya daya apapun. Aku mampu berteriak namun suaraku tak akan mampu membelah tabir jarak yang memisahkan kedua pulau. Walaupun aku masih mencintainya namun aku tidak bisa berkata apapun, aku hanya bisa terbujur kaku saat kehancuran itu kembali datang menyapaku untuk yang kedua kalinya, mulai membunuh setiap keyakinan dan perjuangan yang aku korbankan untuknya. Dan saat aku tersadar dari kematian aku sudah tidak mengenali jasad ini lagi, dan ruh yang menghuni jasad ini.

Walau masih sadar dengan semua perasaanku, namun sepertinya jasad baru ini enggan untuk menerimanya. Ia sengaja mengucilkannya dan memunculkan sifat baru yang tidak pernah ingin kukenal. Ia baru saja membunuh nurani banyak orang demi mewujudkan semua ambisinya, cita-cita hidup dan kekuasaan menjadi sangat sakral baginya daripada kasih sayang dan perasaan berbagi terhadap sesama. Setahap demi setahap ia memang mendapatkan ambisi dan mimpinya, namun berapa banyak orang lagi yang akan dihabisinya demi mewujudkan semua ambisinya untuk bertahta, sepertinya ia tidak perduli, selama ada penghalang bagi setiap jejak menuju kursi singgasana, maka tidak akan segan untuk menikamnya, dari depan, belakang atau semua sisi yang memungkinkan, yang penting kemenangan ada didalam genggaman.

Selasa, 18 September 2007



Sexy Tata Young at Dhoom Machale....india booo...


I'm Hard Core...

Rabu, 12 September 2007

LOVE


Cinta bukan berbicara tentang bagaimana cara seseorang untuk memiliki,

bukan pula berbicara tentang bagaimana cara terungkapnya sebuah pernyataan diluar dari lisan sang kata-kata.

Tapi lebih daripada bagaimana sebuah raga menempatkan duka dalam hatinya

lalu menata tahta suka di hati yang lain,

tanpa berpikir apakah hati itu kelak akan membalas semua yang telah diberikan

atau malah meninggalkannya bergelimang dalam duka.

Juga lebih daripada pengorbanan seorang rasa demi sebuah senyum dari yang dicinta,

bersama atau tidak dengan sang pemilik rasa tersebut.

Cinta adalah Ikhlas yang tertata dalam nurani manusia yang terdalam.