Rabu, 26 September 2007

Dibalik Hujan

Aku Redup Dibalik Derasnya Tangis Sang Pertiwi, Yang Menyiram Setiap Lelah Pada Beban Yang Sudah Terlalu Berat Untuk Ditopang Oleh Sang Adil

Tawa Dan Ceria Wahana-Wahana Kecil Itu Bermain Dibawah Guyuran, Menyambut Rahmad Dari Duka Sang Ibu, Sementara Para Kuli Zaman Sedang Menggerutu Pada Kesedihan Ini, Seolah Mereka Enggan Untuk Paham Pada Penderitaannya.

Aku Masih Redup Dalam Teduhku, Tak Ada Tanda-Tanda Cerah Mengintip Dibalik Kelamnya Gumpalan-Gumpalan Pekat, Yang Ada Hanyalah Butiran-Butiran Sendu Yang Jatuh Massal Menghantam Tubuh Tempat Berpijak, Alirnya Seolah Ingin Menghapus Debu Dan Dosa Dari Jalan-Jalannya.

Beberapa Insan Mulai Mengeluh, Desahan Ego Mereka Seolah Mengumpat Pada Sang Khalik Yang Menghalangi Mereka Untuk Meraup Ambisi Dan Keserakahan Hakiki. Namun Beberapa Insan Lainnya Terlihat Tenang Dalam Meditasi Penantian Ini, Seolah Sadar Bahwa Sabar Dan Syukur Adalah Kunci Utama Dari Rumitnya Kehidupan.

Aku Menghamparkan Tanganku, Keluar Dari Persembunyianku, Sejenak Meyakinkan Ketakutanku, Lalu Ikut Menangis Bersama Sedih Itu, Dimana Sendu Dan Dinginnya Bulir-Bulir Itu Seolah Memberikan Alur Dari Setiap Amarah Dalam Darahku.

Beberapa Insan Kembali Menghujat Sinis, Seolah Tiada Lagi Ada Waras Yang Berpikir Dalam Akal Ini, Namun Beberapa Lainnya Terlihat Merangkai Simpul-Simpul Senyum, Namun Penuh Tanda Tanya Akan Maknanya.

Kuhampiri Wahana-Wahana Kecil Itu, Yang Tampak Tegar Dalam Setiap Kerikil-Kerikil Zaman, Lalu Kutanyakan Pada Mereka Tentang Perasaaan Dari Bulir-Bulir Yang Jatuh Membasahinya, Yang Tampak Hanya Senyum dan Tawa, Seolah Mereka Ingin Bersabda Bahwa Ini Bukanlah Tangis Yang Harus Disesali, Namun Untuk Disyukuri

Akupun Tak Lagi Redup, Tangis Ada Kala Suka Terlalu Lama Berdiri Kokoh Dalam Sisi-Sisi Hidup, Seolah Ingin Mengatakan Bahwa Semua Pasti Berakhir, Duka Lalu Datang Dengan Rakhmad-Nya.

Jangan Menangis Dalam Duka Wahai Hatiku, Bantulah Raga Untuk Bangun Dan Menatap Makna Dari Semua Yang Tersirat, Agar Kelak Tak Ada Lagi Kata Dalam Penyesalan, Dan Maki Dalam Kebodohan

0 komentar: