Rabu, 19 September 2007

TanpaJudul

Mengapa harus ada tangis saat tersakiti oleh cinta? Mengapa harus ada sakit yang menyiksa saat cinta mulai pergi? Dan mengapa takluk selalu saja bersama orang-orang yang lemah akan cinta..?

Lalu mengapa ada saja yang masih menyanjung cinta itu bagai sebuah keagungan yang maha dahsyat mengalahkan segalanya? Mengapa masih ada yang mengatakan bahwa ada keindahan yang terlukis dibaliknya? Sadarkah mereka pada apa yang terlihat oleh kasat mata tak lebih dari sebuah fatamorgana oase ditengah teriknya panas gurun.

Aku ibarat sebuah kebodohan saat mengenal apa itu cinta, seperti seorang musafir yang tersesat di hamparan padang pasir, bingung kemana arah akan melangkah, saat tersadar aku sudah kehilangan segalanya, ambisi dan tujuan hidup.

Saat aku mulai kehilangan kemana aku harus berpijak? Aku masih punya Allah yang maha tahu apa yang dibutuhkan hambanya, tapi pundak siapa yang bisa kujadikan tempat untuk bersandar? Lalu apa yang bisa kulakukan untuk meyakinkan dirinya yang telah pergi..? aku tidak punya daya apapun. Aku mampu berteriak namun suaraku tak akan mampu membelah tabir jarak yang memisahkan kedua pulau. Walaupun aku masih mencintainya namun aku tidak bisa berkata apapun, aku hanya bisa terbujur kaku saat kehancuran itu kembali datang menyapaku untuk yang kedua kalinya, mulai membunuh setiap keyakinan dan perjuangan yang aku korbankan untuknya. Dan saat aku tersadar dari kematian aku sudah tidak mengenali jasad ini lagi, dan ruh yang menghuni jasad ini.

Walau masih sadar dengan semua perasaanku, namun sepertinya jasad baru ini enggan untuk menerimanya. Ia sengaja mengucilkannya dan memunculkan sifat baru yang tidak pernah ingin kukenal. Ia baru saja membunuh nurani banyak orang demi mewujudkan semua ambisinya, cita-cita hidup dan kekuasaan menjadi sangat sakral baginya daripada kasih sayang dan perasaan berbagi terhadap sesama. Setahap demi setahap ia memang mendapatkan ambisi dan mimpinya, namun berapa banyak orang lagi yang akan dihabisinya demi mewujudkan semua ambisinya untuk bertahta, sepertinya ia tidak perduli, selama ada penghalang bagi setiap jejak menuju kursi singgasana, maka tidak akan segan untuk menikamnya, dari depan, belakang atau semua sisi yang memungkinkan, yang penting kemenangan ada didalam genggaman.

Tidak ada komentar: