Rabu, 10 Oktober 2007

Hidup ini simple ( dari seorang kawan )

Ada seseorang saat melamar kerja,

memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu
terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah,

cukup memelihara kebiasaan yang baik .

---- 000 -----

Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda.

Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk
diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb,

si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap.

Murid-murid lain menertawakan perbuatannya.

Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si
adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.

Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah,

cukup punya inisiatif sedikit saja.

---- 000 -----

Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat
cantik." Ibu menjawab: "Mengapa?" Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama
sekali tidak marah-marah. "

Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah,

hanya perlu tidak marah-marah .

---- 000 -----

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.


Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras,

Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur.

" Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku
sedang membina anakku."

Ternyata membina seorang anak sangat mudah,

cukup membiarkan dia rajin bekerja .

---- 000 -----

Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola
jatuh ke dalam rerumputan,

bagaimana cara mencarinya?

" Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah.

" Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke
dalam.

" Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi.

" Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat:

"Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga
ke rumput sebelah sana ."

*Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup
melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan
meloncat-loncat.

---- 000 -----

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di
pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya,

tinggallah denganku." Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah
terbiasa,

malas untuk pindah.

" Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir
jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.


Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri,

cukup hindari kemalasan saja.

---- 000 -----

Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir,

semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang
yang berjalan dengan gembira.

Ada yang bertanya: "Mengapa engkau begitu santai?" Dia menjawab
sambil tertawa: "Karena barang bawaan saya sedikit."

Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan,

cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.



* You are what you think about. Beware of your mind.

Menangislah

Menangislah Untuk Ramadhan Yang Kan Hilang


Nak, menangislah,

Jika itu bisa melapangkan gundah yang mengganjal sanubarimu. Bahwa
Ramadhan sudah bergegas di akhir hitungan. Dan tadarus quranmu tak
juga
beranjak pada juz empat.jika itu adalah ungkapan penyesalanmu. jika
itu
merupakan awal tekadmu untuk menyempurnakan tarawih dan qiyamul lailmu
yang centang perenang (ah, pasti kamu masih ingat obrolan tadi siang
ketika dengan senyum manisnya teman ruanganmu berucap, "alhamdulillah
tarawihku belum bolong. " dan kamu merasa ada malaikat yang menjauh
darimu dan pindah padanya. Kamu merasa sendiri, terasing.)

Menangislah,

Biar butir bening itu jadi saksi di yaumil akhir. Bahwa ada satu hamba
Allah yang bodoh, lalai, sombong lagi terlena. Yang katanya berdoa
sejak
dua bulan sebelum ramadhan, yang katanya berlatih puasa semenjak
rajab,
yang katanya rajin mengikuti taklim tarhib ramadhan, tapi..., tapi
sampai puasa hari ke tiga belas masih juga menggunjingkan kekhilafan
teman ruanganmu, masih juga tak bisa menahan ucapan dari kesia-siaan,
tak juga menambah ibadah sunnah... Bahkan hampir terlewat menunaikan
yang wajib.

Menangislah, lebih keras...

Allah tak menjanjikan apa-apa untuk Ramadhan tahun depan, apakah kamu
masih disertakan, sedangkan Ramadhan sekarang cuma tersisa beberapa
belas. Tak ada yang dapat menjamin usiamu sampai untuk Ramadhan besok,
sedang Ramadhan ini tersia-siakan. Menangislah untuk Ramadhan yang kan
hilang, bersama nostalgia yang terus tumbuh bersama usiamu. Setengah
sadar menatap hidangan saat sahur, kolak-es buah yang tersaji saat
berbuka, menyusuri gang sempit saat tadarus keliling, petasan dan
kembang api yang disulut usai subuh. Ramadhan yang selalu membuka
ingatan masa kecilmu dan terus terulang mengisi tahun-tahun
kedewasaan...

Menangislah,

Untuk dosa-dosa yang belum juga diampuni, tapi kamu masih juga
menambahi
dengan dosa baru. Berapa kali kamu sholat taubat, tetapi tak lama
kemudian ada saja kelalaian yang kamu buat? Kamu bilang tak sengaja?
Tapi mengapa berulang dan tak juga kamu mengambil pelajaran? Syarat
taubatan nasuha adalah bertekad tidak mengulanginya lagi dan bukannya
bertobat sambil berucap 'kalau kejadian lagi, yaa taubat lagi'...

Menangislah.

Dan tuntaskan semuanya di sini, malam ini. Karena besok waktu akan
bergerak makin cepat, Ramadhan semakin berlari. Tahu-tahu sudah
sepuluh
hari terakhir dan kamu belum bersiap untuk itikaf. Dan lembar-lembar
quran menunggu untuk dikhatamkan. Dan keping-lembar mata uang menunggu
disalurkan. Dan malam menunggu dihiasi sholat tambahan.

Sekarang, atau (mungkin) tidak (ada lagi) sama sekali...
Baitul Maal Madani

Senin, 01 Oktober 2007

Humor

Di bawah in i adalah pengalaman
Kami yang tidak akan kami lupakan
Seumur hidup karena amat berbahaya Dan
Menyeramkan ketika berada di TSI.


Hari M in ggu lalu (bertepatan Hari
Pertama bulan puasa), kami berkunjung
Ke TSI dengan menggunakan Mobil
Keluarga, 4 orang dewasa Dan 2 anak
Kecil dengan tujuan refresh in g,
melihat
B in atang yang belum pernah kami lihat
Secara langsung Dan dekat terutama
Yang besar Dan liar atau berbahaya.


Belum lama kami berada di TSI,
Kira-kira 10 menit, Mobil kami
Memasuki area b in atang yang bukan
B in atang buas (kijang, banteng dll),
Tiba-tiba Mobil kami mogok Dan meski
Sudah mencoba untuk merestart beberapa
Kali, tetapi mes in sama sekali tidak
Bisa di hidupkan kembali.


Kami pikir mungk in cipratan air telah
Menyebabkan Mobil kami mogok saat baru
Saja melewati genangan air seperti
Sungai kecil di TSI.


Meskipun ragu-ragu, karena tidak
Terlihat Ada petugas TSI di dekat situ,
Akhirnya paman saya turun untuk
Membuka kap mes in .


Kami tidak membunyikan klakson karena
Takut mengganggu b in atang di TSI.
Kami pikir, area in i adalah area yang
Aman, bukan area b in atang buas, jadi
Kami berusaha tenang menunggu di dalam
Mobil sambil ngobrol.


Namun tiba-tiba kami terkejut
Ketika melihat seekor s in ga yang
entah
Dari mana datangnya sudah berada di
Belakang Mobil kami Dan berjalan ke
Arah depan Mobil dimana paman kami
Berada.


Lalu... Entah kenapa kami semua
Seperti terhipnotis melihat s in ga
Itu mendekati paman kami yang asyik
Mencari kerusakan Mobil Dan tidak
Tahu dengan kedatangan s in ga itu.


Kami benar-benar hanya terpaku melihat
S in ga itu tanpa berusaha untuk
Memberitahu paman Ada bahaya yang
Datang.


Dan..?? Bertepatan paman menutup
Kap mes in .... Ketika itu pula s in ga
Sudah berada tepat dibelakang tubuh
Paman saya, seh in gga tampak sangat
Jelas oleh kami dari dalam Mobil
Bagaimana sangat dekatnya s in ga
Terhadap paman, Dan


....................................
....................................



Saat itu pula singa itu langsung.......


Mencolek bahu paman saya seraya
Berkata,
"kagak usah takut ...
Gua lagi puasa .....
Kenapa mobilnya ...
Mogok ya....." !!!



BACANYA SERIUS AMAT !!!
PEACE PREN !!!
TEPU DIKIT..
HWAHAHAHAHA!!!.........

Rabu, 26 September 2007

Sehidup Semati



Dinda...

Duduklah Sejenak Dalam Heningnya Duniaku, Mari Kita Berbincang Tentang Indahnya Bunga Yang Telah Aku Rangkai Untukmu. Dimana Aku Telah Merajut Setiap Asa Dan Secercah Senyum Di Setiap Kelopaknya.

Dinda...

Duduklah Sejenak Dalam Kesederhanaan Istanaku, Mari Kuperlihatkan Setiap Sudut Pintu Hatiku, Dimana Para Prajurit Cinta Telah Mulai Menenun Lembaran-Lembaran Sutra Untuk Namamu

Dinda...

Duduklah Dalam Pelaminan Jamuanku, Akan Aku Suguhkan Sebuah Pualam Sebagai Maharmu, Dimana Pilar-Pilar Tetesan Cahaya Rembulan Telah Menghias Setiap Butiran-Butiran Tahtanya.

Dinda...

Genggam Tanganku Dan Berjalanlah Dalam Langkah Hidupku, Ikuti Setiap Jejak-Jejak Harapan Dan Doaku Bagimu, Tatkala Kau Merasa Resah, Maka Rangkullah Beberapa Bintang Untuk Menuntun Sinar Mu

Dinda...

Pandanglah Terus Pada Mentari Dalam Setiap Keluh Kesahmu, Tatkala Ego Mulai Meresap Dalam Batinmu, Hatimu Tak Akan Tertutup Olehnya.

Dinda.....

Tatkala Senja Mulai Turun Menutup Peraduannya Pada Hari Tua Raga Ini, Maka Teruslah Duduk Dalam Biduk Ini Sebagai Permaisuriku, Ceritakan Tentang Semua Lembaran Silam Yang Telah Kita Anyam Dalam Helai Nafas-Nafas Cinta.

Dinda...

Hapuslah Butiran Kesedihan Yang Mengalir Pada Redup Ranumnya Kasihmu, Bacakan Tentang Suka Dalam Lampau Kita, Dan Simpulkan Senyum Dalam Wajah Penuh Makna Itu, Tetapkan Ia Disitu, Walau Kelak Kalimat Duka Kembali Harus Diucap

Dinda...

Kala Jasad Ini Telah Roboh Oleh Masa, Maka Yakinlah Bahwa Jiwa Akan Terus Menjadi Kawan Dalam Hidupmu, Nyanyikan Ayat-Ayat Doa Dalam Sepimu, Dan Tetaplah Tersenyum Pada Tegarmu.

Dibalik Hujan

Aku Redup Dibalik Derasnya Tangis Sang Pertiwi, Yang Menyiram Setiap Lelah Pada Beban Yang Sudah Terlalu Berat Untuk Ditopang Oleh Sang Adil

Tawa Dan Ceria Wahana-Wahana Kecil Itu Bermain Dibawah Guyuran, Menyambut Rahmad Dari Duka Sang Ibu, Sementara Para Kuli Zaman Sedang Menggerutu Pada Kesedihan Ini, Seolah Mereka Enggan Untuk Paham Pada Penderitaannya.

Aku Masih Redup Dalam Teduhku, Tak Ada Tanda-Tanda Cerah Mengintip Dibalik Kelamnya Gumpalan-Gumpalan Pekat, Yang Ada Hanyalah Butiran-Butiran Sendu Yang Jatuh Massal Menghantam Tubuh Tempat Berpijak, Alirnya Seolah Ingin Menghapus Debu Dan Dosa Dari Jalan-Jalannya.

Beberapa Insan Mulai Mengeluh, Desahan Ego Mereka Seolah Mengumpat Pada Sang Khalik Yang Menghalangi Mereka Untuk Meraup Ambisi Dan Keserakahan Hakiki. Namun Beberapa Insan Lainnya Terlihat Tenang Dalam Meditasi Penantian Ini, Seolah Sadar Bahwa Sabar Dan Syukur Adalah Kunci Utama Dari Rumitnya Kehidupan.

Aku Menghamparkan Tanganku, Keluar Dari Persembunyianku, Sejenak Meyakinkan Ketakutanku, Lalu Ikut Menangis Bersama Sedih Itu, Dimana Sendu Dan Dinginnya Bulir-Bulir Itu Seolah Memberikan Alur Dari Setiap Amarah Dalam Darahku.

Beberapa Insan Kembali Menghujat Sinis, Seolah Tiada Lagi Ada Waras Yang Berpikir Dalam Akal Ini, Namun Beberapa Lainnya Terlihat Merangkai Simpul-Simpul Senyum, Namun Penuh Tanda Tanya Akan Maknanya.

Kuhampiri Wahana-Wahana Kecil Itu, Yang Tampak Tegar Dalam Setiap Kerikil-Kerikil Zaman, Lalu Kutanyakan Pada Mereka Tentang Perasaaan Dari Bulir-Bulir Yang Jatuh Membasahinya, Yang Tampak Hanya Senyum dan Tawa, Seolah Mereka Ingin Bersabda Bahwa Ini Bukanlah Tangis Yang Harus Disesali, Namun Untuk Disyukuri

Akupun Tak Lagi Redup, Tangis Ada Kala Suka Terlalu Lama Berdiri Kokoh Dalam Sisi-Sisi Hidup, Seolah Ingin Mengatakan Bahwa Semua Pasti Berakhir, Duka Lalu Datang Dengan Rakhmad-Nya.

Jangan Menangis Dalam Duka Wahai Hatiku, Bantulah Raga Untuk Bangun Dan Menatap Makna Dari Semua Yang Tersirat, Agar Kelak Tak Ada Lagi Kata Dalam Penyesalan, Dan Maki Dalam Kebodohan

Asa

Jika Saja Mimpi Itu Datang Lebih Awal, Tentu Sadar Takkan Berani Mengusik Jiwa Yang Sedang Terlelap Dalam Dekapan Malam

Jika Saja Cahaya Itu Datang Sebelum Pagi Membangunkan Raga Yang Sedang Beradu Argumen Dengan Kata Hati Yang Terusik, Tentu Mentari Akan Bersua Pada Secercah Pilunya Harapan

Namun Tidak Ada Satupun Embun Yang Menetes Sesudah Tangis Alam Yang Membasuh Perih Sang Ibunda, Yang Ada Adalah Air Mata Duka Yang Tertahan Oleh Puing-Puing Amarah

Kanda Masih Terduduk Dalam Khusu’ Nya Ayat Sabda, Sementara Dinda Menatapnya Nanar, Sambil Sesekali Merajut Sayap-Sayap Harapan Pada Tangis Sang Ananda.

Jika Saja Ia Bisa Berujar, Maka Perdalamlah Kata Dari Jasad Nurani, “Inilah Budi Yang Paling Utama, Yang Tidak Akan Bisa Terbayar Dengan Sempurnanya Nilai Ikhlas”.

Hati Berdesah.......

Jika Saja Harapan Itu Datang Sebelum Dosa Porak Porandakan Jejak Jerih Dan Keluh Kesah Lelah Sang Raga, Maka Urat-Urat Nadi Akan Terus Menopang Langkah Asa Membenahi Sirrat Yang Terurai

Jika Saja Perih Itu Tidak Datang Saat Luka Menebar Sakit Di Sekujur Diam, Maka Bara Dendam Akan Padam Oleh Argumen Sabar Dalam Memperjuangkan Ayat-Ayat Surga

Hati Masih Berdesah....

Dimana Jiwa Harus Bersujud Sementara Raga Masih Terus Mengukir Enggan Dalam Diam? Apakah Ukiran Itu Begitu Indah Sehingga Membutakan Nur Taqwa Yang Hakiki.

Dimana Hati Harus Mengadu Sementara Ego Masih Sibuk Melukis Rona-Rona Dendam Dalam Riuh Rendahnya Bisik-Bisik Dengki? Apakah Bisikan Itu Begitu Merdunya? Sampai Membuat Akal Berpaling Dari Indahnya Realita Janji Sang Maha Agung.

Hati Kini Memohon...

Andaikan Mampu Terkabul, Kami Lelah Mencari Kebenaran Itu Sendiri.

Andaikan Mampu Terkabul Izinkan Kami Menatap Secercah Sinar Pada Wajah Sang Teladan, Walau Sesaat, Ia Adalah Air Yang Membasahi Setiap Kering Kerontangnya Langkah-Langkah Ego Dalam Membangun Mimpi

Andaikan Terkabul, Izinkan Kami Mati Dalam Balutan Syafaat Syuhada Sang Pemimpin Mulia Itu, Sehingga Terlupa Oleh Kami Semua Keindahan Dan Janji-Janji Dunia

Hati Kini Memohon...

Dan Terus Akan Memohon...

Terus Memohon...

Sampai Raga Tak Mampu Lagi Memohon...