
Saat raga sudah mengenal dia yang teduh dalam buai pualam, jiwa terus menatap padanya. Sehingga tanpa sadar ia telah membeku, dan seakan-akan hatinya telah mati. Saat raga mulai kehilangan ranumnya pualam itu, maka iapun rapuh dalam segala asa. Hanya hening yang mengharu biru dalam redupnya. Tanyakan mengapa ia tak bisa lagi terbang? Padahal dia adalah figur kokoh sang pujangga dengan sayap sajaknya yang membentang lebar, yang begitu mudahnya melantunkan bait merdu dalam setiap kata. Atau, apakah ia sudah mulai lupa caranya merangkai bait? Tidak, ia tidak lupa. Hanya saja sekarang ia telah benar – benar mati.....
Bila takdir itu datang, maka terimalah dua hal yang akan jadi nyata, dua hal yang akan saling sapa dalam mengiringi prosa yang membentuk alur cerita, yaitu apa yang disebut duka dan apa yang disebut Suka. Duka akan mentolelir rasa suka kala kegembiraan itu datang, membiarkannya meresap dalam pori dan sendi ceria, dan mungkin akan membiarkannya terus hanyut didalamnya. Namun saat semua berganti maka kesedihan lah yang akan dominan menguasai hati, dan suka hanya mampu datang dalam wujud kenangan. Jika kecewa itu datang, berpikirlah layaknya sosok yang optimis pada diri pribadi. Semua itu Cuma sebuah proses belajar untuk menjadi dewasa, baik dalam berpikir maupun dalam bersikap. Jika mencoba untuk membenci semuanya, dan mungkin menganggap diri adalah yang paling bodoh dan gampang tertipu, mungkin itu akan menjadi benar atau mungkin juga tidak. Benar apabila terus terpuruk dalam kekecewaan dan tidak pernah belajar mencoba untuk bangkit kembali dan tidak benar apabila kekecewaan bisa dijadikan landasan berpijak untuk mencapai yang lebih baik. Bencilah semua sebatas kemampuan untuk bisa membenci dan kenanglah semua sebatas kemampuan untuk mengenangnya. Jangan paksakan membenci tatkala hati masih ingin mengenangnya dan belum terbiasa untuk melupakannya. Berikan kesempatan pada semua memori untuk melakukan kilas balik didalam otakmu, lalu setelah itu tempatkan itu semua sebagai alas dalam berpijak dan teruskan langkah. Jangan mengekspos kekecewaan terlalu dalam, sehingga asa itu seolah tak lagi akan datang, itu hanya mendatangkan kesan bahwa kekecewaan itu adalah sebuah harapan untuk terulangnya lagi apa yang telah terjadi. Tapi pendamlah semua sehingga ia tidak membesar menjadi suatu bara yang terus menyala dalam hati, sehingga pabila suatu saat cerita berulang dalam versi berbeda, maka ia telah datang pada jiwa yang tegar, jiwa yang telah banyak belajar dari kegagalan dan siap menghadapi apapun. Sesuatu yang terbaik bagi Allah adalah yang terbaik bagi manusia, walaupun manusia kadang merasa kecewa terhadap takdir itu.
Say’s with AR
Bila takdir itu datang, maka terimalah dua hal yang akan jadi nyata, dua hal yang akan saling sapa dalam mengiringi prosa yang membentuk alur cerita, yaitu apa yang disebut duka dan apa yang disebut Suka. Duka akan mentolelir rasa suka kala kegembiraan itu datang, membiarkannya meresap dalam pori dan sendi ceria, dan mungkin akan membiarkannya terus hanyut didalamnya. Namun saat semua berganti maka kesedihan lah yang akan dominan menguasai hati, dan suka hanya mampu datang dalam wujud kenangan. Jika kecewa itu datang, berpikirlah layaknya sosok yang optimis pada diri pribadi. Semua itu Cuma sebuah proses belajar untuk menjadi dewasa, baik dalam berpikir maupun dalam bersikap. Jika mencoba untuk membenci semuanya, dan mungkin menganggap diri adalah yang paling bodoh dan gampang tertipu, mungkin itu akan menjadi benar atau mungkin juga tidak. Benar apabila terus terpuruk dalam kekecewaan dan tidak pernah belajar mencoba untuk bangkit kembali dan tidak benar apabila kekecewaan bisa dijadikan landasan berpijak untuk mencapai yang lebih baik. Bencilah semua sebatas kemampuan untuk bisa membenci dan kenanglah semua sebatas kemampuan untuk mengenangnya. Jangan paksakan membenci tatkala hati masih ingin mengenangnya dan belum terbiasa untuk melupakannya. Berikan kesempatan pada semua memori untuk melakukan kilas balik didalam otakmu, lalu setelah itu tempatkan itu semua sebagai alas dalam berpijak dan teruskan langkah. Jangan mengekspos kekecewaan terlalu dalam, sehingga asa itu seolah tak lagi akan datang, itu hanya mendatangkan kesan bahwa kekecewaan itu adalah sebuah harapan untuk terulangnya lagi apa yang telah terjadi. Tapi pendamlah semua sehingga ia tidak membesar menjadi suatu bara yang terus menyala dalam hati, sehingga pabila suatu saat cerita berulang dalam versi berbeda, maka ia telah datang pada jiwa yang tegar, jiwa yang telah banyak belajar dari kegagalan dan siap menghadapi apapun. Sesuatu yang terbaik bagi Allah adalah yang terbaik bagi manusia, walaupun manusia kadang merasa kecewa terhadap takdir itu.
Say’s with AR

Tidak ada komentar:
Posting Komentar